Ingatkah dirimu setahun yang lalu? Saat kita sempat sedekat embun pada daun lalu menguap setelah sang surya merajai hari.
Ingatkah dirimu kala kita pernah bersama menuai rindu dalam bilik meja yang tersaji cangkir kopi yang pekat dan pahit, serta beberapa batang tembakau yang selalu bersahutan dengan omelanmu tiap kuhisap batang tembakau itu.
Ingatkah dirimu waktu beberapa gelang tak berguna sempat melingkar di pergelangan tanganmu yang kurus?
Ah, sudahlah. Bualan macam apa ini. Rinduku hanya sebatas obsesi tentang dirimu yang engkau tinggalkan demi sang pujangga baru yang lebih manis merangkai kata dan menyajikan rindu yang lebih tertata.
Pujangga yang mampu membuatmu terbang ke awang-awang dan lupa akan daratan, bahwa engkau adalah mahluk bumi yang membuatmu merasa hidup di antara bintang-bintang.
Apakah dirimu masih ingat akan ucapan-ucapan sampah kita waktu itu? Hahaha, rasanya geli jika diingat kembali.
Kita sempat memutuskan untuk tidak perlu kuliah dan berkhayal agar cepat berumah tangga. Dungunya kita waktu berkhayal tentang anak-anak dari keluarga kecil kita.
Kita sempat memutuskan untuk tidak perlu kuliah dan berkhayal agar cepat berumah tangga. Dungunya kita waktu berkhayal tentang anak-anak dari keluarga kecil kita.
Maafkan bajingan ini yang terbangun dari mimpinya. Maafkan bajingan ini pula yang lebih dulu membuka mata dan menyadari bahwa itu hanya mimpi yang menguap dan berguguran laksana daun yang meninggalkan rantingnya.
Maafkan diriku pula yang merusak khayalan kecil kita saat itu. Lagian, diriku yang salah, membuat sebuah ultimatum dan akhirnya kau direbut pujangga yang lain. Masih teringat pula diriku termangu menatapmu meninggalkan jejak langkah penuh luka dalam dada ini adinda.
Engkau kenapa setega itu? Memang sudah jadi hukum Tuhan, bahwa ikhlas adalah jawaban yang lebih dahsyat dari logika manusia. Sudahlah. Aku sudah kuat mengingatnya saat ini. Aku tidak ragu lagi jika harus meneteskan air mata.
Kini, apa kabarnya dirimu? Mungkin kau sudah tidak mengenalku. Tapi aku masih seperti yang dulu. Masih seperti ombak di laut yang konsisten dengan irama deburannya. Bahkan aku masih ingat banyaknya butiran gula tiap engkau mencampurkannya dengan bubuk kopi. Lucunya, masih sangat lekat dalam ingatanku. Entah, andaikata tiap cangkirnya membungkus kenangan itu dalam benakmu.
Kini kita berbeda. Aku tahu dirimu akan merindukanku. Tapi sudahlah. Nikmati saja syair-syair pesona dari pujanggamu. Aku pun sudah punya tempat baru untuk berekspresi ria dan berbagi cerita. Menghabiskan waktu untuk sekadar bertemu meskipun hanya dalam hitungan menit. Tempat baruku juga lebih lembut perangainya.
Doakan saja adinda, semoga tempat baru ini mampu membawaku menuju gerbang kebersamaan yang hakiki.
Adinda, kalau kamu tahu, tempat baruku juga lebih mengerti tentang perkara Tuhan dan aturan mainnya. Aku seperti anak TK yang diajari dari awal. Tapi kunikmati saja. Ada pancaran yang tulus dari wajahnya. Semoga dirimu selamanya dengan dia, membentuk mahligai cinta yang abadi.
"Ingatlah, bahwa kita sempat bersama bagai embun dengan daunnya"
Garut, 15 Mei 2017.
Aziz Timur
