3 May 2017

Setelah lulus, kemana?


Garut sedang hujan-hujannya nih. Jadi inget kenangan dengan mantan.

Hujan memang selalu melukiskan kenangan dan menghadirkan senyuman meskipun sering berakhir dengan tangisan dan kenangan yang tersisa dalam sanubari dan fikiran.
(Malah curhat)

Tanggal 1 dan 2 Mei memang selalu menjadi momen nasional di Indonesia dimana Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional hanya berbeda 24 jam. Ya pasti libur tiap tanggal 1 Mei tapi pada tanggal 2, langsung upacara HARDIKNAS. Serasa hari Senin part 2 yah.
Kebetulan di tahun 2017 ini, kabar kelulusan SMA/sederajat juga jatuh pada tanggal 2 Mei. Jadi, itu kerennya, anak SD  & SMP melakukan upacara bendera, kakaknya yang SMA curat coret baju. Keren kan??

Saya sempat berpikir bahwa, mungkin ini adalah tujuan menteri pendidikan kalau pengumuman kelulusan pada saat HARDIKNAS, mungkin tidak akan melakukan konvoi. Tetapi gimana kalau sebaliknya? Menteri Pendidikan berniat untuk merusak momentum penting ini dengan konvoi dan urak-urakan siswa SMA? 😁😁

Filosofi lain yang membuat saya suudzon pada pemerintah adalah, kenapa hari buruh sedunia dan hari pendidikan nasional hampir berbarengan? Apakah mungkin, bahwa buruh pun perlu pendidikan, atau sebaliknya?

"Lo kalau udah lulus sekolah, noh jadi buruh!"

Bukan berniat menghina kaum buruh, wong saya juga buruh. Bagus aja sih kalau buruh harus berpendidikan tinggi. Karena, pendidikan tidak harus membuatmu pintar, tapi minimal tidak bikin kamu bego.

Tapi gimana kalau tujuannya berbalik dengan niat bahwa, tiap kelulusan seseorang, harus juga diingatkan bahwa mending jadi buruh. Bukan apa-apa, tapi memang miris kalau seharusnya generasi muda punya mimpi yang tinggi, tapi dipatahkan mimpinya dengan paksaan jadi buruh. Sadar atau tidak, ini sih kembali pada paradigma kita masing-masing.

Menurut saya, ini adalah sebuah permasalahan yang mana seseorang yang baru saja lulus, dipaksakan untuk menjadi buruh akibat himpitan ekonomi. Wajar memang, negara kita memang sedang dilanda bencana. Bencana oleh pemimpin yang kurang sehat. Padahal mereka punya keinginan untuk mencapai cita-cita. Mana biaya pendidikan sekarang mahal lagi. Miris memang.

Kalau untuk yang ekonominya menengah ke atas sih gak masalah. Tinggal pake uang pribadi, atau kasih amplop sana sini biar lulus di PTN favorit.  Tapi yang ekonominya menengah ke bawah, jadi buruh lagi, buruh lagi. Back to Worker.

Nah, untuk kamu yang harusnya mau ke perguruan tinggi, tapi memang belum waktunya karena biaya, tidak perlu bingung. Karena yang perlu dipikirkan kembali adalah bagaimana seseorang mampu keluar dari masalah, bukan meratapi masalah. Belajar menjadi lebih dewasa karena

"hidup itu ibarat sepeda. Kamu harus terus berjalan agar tetap seimbang."

Okelah sekarang kamu masih bahagia karena kelulusan dengan curat coret baju sekolah yang seharusnya bisa diberikan pada adik2 kamu yang kurang mampu. Tapi udahlah. Itu hak mu.

Yang perlu dipikirkan sekarang adalah, kamu harus kemana setelah lulus, kalau ke perguruan tinggi, pikir-pikir dulu kemana arahnya. Sadarlah kemampuan, kemauan dan manfaatnya untuk orang lain. Minimal kamu menjadi orang yang bermanfaat untuk yang lain dengan ilmu yang dimiliki.

Untuk kamu yang belum kuliah tapi sebenarnya ingin, tenang saja. Kamu harusnya buat arah  jalan yang berbeda bahwa berkarya lebih dulu adalah passion mu untuk tetap melanjutkan hidup ini dan jadikah orang yang bermanfaat buat yang lain. Sisanya?? Serahkan pada Tuhan yang maha cerdas dan maha terampil dalam berkarya.

Semoga tulisan ini bermanfaat. 😊

Salam,
Aziz Timur.
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak