Gila gila. Pilkada Jakarta ramai yah? Hahaha keren... keren... Ya udahlah. Selamat deh kepada Pak Anies dan Pak Sandiaga.
Moga Jakarta makin lebih baik deh. Semoga. Semoga. Semoga.
Sorry
juga deh sebelumnya bahwa hampir dua bulan ini tidak ada postingan. Ada
beberapa penataan masa tua agar lebih rapih kelak. 😁
Jadi begini, beberapa hari lalu saya temukan keanehan yang mungkin saja dibuat-buat.
Ini
tentang perempuan, khususnya perempuan SMP yang kemarin saya temukan di
angkutan umum. Bukan apa-apa sih, tapi aneh aja dari dandanannya. Bedak
tebal di wajah, lipstik merah dan memegang tas jinjing bling-bling
adalah keanehan masa kini yang mirip ibu-ibu.
Seriusan, makanya saya sempat berpikir bahwa, apakah ini adalah anak SMP yang bergaya ibu-ibu, atau ibu-ibu yang masih SMP? 😂
Maksud
saya begini, sekolah itu memang perlu, untuk apa? Untuk membuat mu
berubah, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Sisanya?? Bergaya? Tunjukin
penampilan?
Ngapain?? Buat apa??
Saya
jadi teringat jika dulu kalau Ibu Kartini bukan terkenal karena
penampilannya lho. Tapi dari prestasi dan kemauan yang gigih untuk
berubah. Melawan sebuah kebudayaan ataupun stigma yang sudah mengekang
untuk kaum perempuan.
Jika hari ini hanya bermodalkan
penampilan, maka apa bedanya dengan orang-orang diluar sana yang hanya
dengan modal cantik tanpa otak??
Sorry, sorry. Maksud
saya, mending baikin dulu isi kepalanya, ntar juga penampilan menyusul.
Artinya, agar ada keseimbangan antara kulit dan isi. Biar tidak terkesan
"tong kosong nyaring bunyinya."
Bermasalah sih
tidak, hanya saja kalau memang masih sekolah, ya gaya seadanya saja.
Biasa saja. Tidak perlu berlebihan agar terlihat dewasa. Tidak penting
juga.
Maka dari itu, perlu juga ada
pengembangan yang lebih lanjut agar tidak ada ketimpangan antara
pengetahuan dan penampilan. Kebayang kalau misalnya Ibu Kartini masih
ada, mungkin saja akan menangis melihat generasi penerus kartini yang
lain hanya sibuk bersolek tanpa diimbangi dengan pengetahuan.
Miris
memang. Mungkin perlu ada perubahan stigma untuk bersekolah hari ini.
Memang selalu tidak semuanya seperti itu, tapi kalau dibiarkan?? Ya
tinggal tunggu saja tanggal mainnya.
Lucunya, ini
seakan menjadi pandangan yang lumrah. Ada sesuatu yang membuat ini
seakan biasa saja. Apa itu? Ketidak pedulian kita. Cuek. Hak
masing-masing.
Saya bukan superior yang datang dari antah-barantah dan
membuat perubahan dahsyat. Bukan. Bahkan saya juga merasa masih banyak
kekurangan. Tapi di sisi lain? Entah peduli, entah apatis.
Kalau saja anda sibuk mengucapkan hari kartini, tetapi kartini masa depan dibiarkan begitu saja, apa gunanya??
Mumpung
masih hangat, yuk! Kita berbarengan membuat pemahaman lebih kepada yang
lain bahwa: KARTINI TIDAK TERKENAL DENGAN DANDANANNYA YANG MENOR.
Semoga tulisan tidak penting ini bermanfaat.
Salam,
