22 Apr 2017

Yakin ada Kartini masa depan?


Gila gila. Pilkada Jakarta ramai yah?  Hahaha keren... keren... Ya udahlah. Selamat deh kepada Pak Anies dan Pak Sandiaga.

Moga Jakarta makin lebih baik deh. Semoga. Semoga. Semoga.

Sorry juga deh sebelumnya bahwa hampir dua bulan ini tidak ada postingan. Ada beberapa penataan masa tua agar lebih rapih kelak. 😁

Jadi begini, beberapa hari lalu saya temukan keanehan yang mungkin saja dibuat-buat.

Ini tentang perempuan, khususnya perempuan SMP yang kemarin saya temukan di angkutan umum. Bukan apa-apa sih, tapi aneh aja dari dandanannya. Bedak tebal di wajah, lipstik merah dan memegang tas jinjing bling-bling adalah keanehan masa kini yang mirip ibu-ibu.

Seriusan, makanya saya sempat berpikir bahwa, apakah ini adalah anak SMP yang bergaya ibu-ibu, atau ibu-ibu yang masih SMP? 😂

Maksud saya begini, sekolah itu memang perlu, untuk apa? Untuk membuat mu berubah, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Sisanya?? Bergaya? Tunjukin penampilan?

Ngapain?? Buat apa??

Saya jadi teringat jika dulu kalau Ibu Kartini bukan terkenal karena penampilannya lho. Tapi dari prestasi dan kemauan yang gigih untuk berubah. Melawan sebuah kebudayaan ataupun stigma yang sudah mengekang untuk kaum perempuan.

Jika hari ini hanya bermodalkan penampilan, maka apa bedanya dengan orang-orang diluar sana yang hanya dengan modal cantik tanpa otak??

Sorry, sorry. Maksud saya, mending baikin dulu isi kepalanya, ntar juga penampilan menyusul. Artinya, agar ada keseimbangan antara kulit dan isi. Biar tidak terkesan "tong kosong nyaring bunyinya."

Bermasalah sih tidak, hanya saja kalau memang masih sekolah, ya gaya seadanya saja. Biasa saja. Tidak perlu berlebihan agar terlihat dewasa. Tidak penting juga.

 Maka dari itu, perlu juga ada pengembangan yang lebih lanjut agar tidak ada ketimpangan antara pengetahuan dan penampilan. Kebayang kalau misalnya Ibu Kartini masih ada, mungkin saja akan menangis melihat generasi penerus kartini yang lain hanya sibuk bersolek tanpa diimbangi dengan pengetahuan.

Miris memang. Mungkin perlu ada perubahan stigma untuk bersekolah hari ini. Memang selalu tidak semuanya seperti itu, tapi kalau dibiarkan?? Ya tinggal tunggu saja tanggal mainnya.

Lucunya, ini seakan menjadi pandangan yang lumrah. Ada sesuatu yang membuat ini seakan biasa saja. Apa itu? Ketidak pedulian kita. Cuek. Hak masing-masing.

Saya bukan superior yang datang dari antah-barantah dan membuat perubahan dahsyat. Bukan. Bahkan saya juga merasa masih banyak kekurangan. Tapi di sisi lain? Entah peduli, entah apatis.

Kalau saja anda sibuk mengucapkan hari kartini, tetapi kartini masa depan dibiarkan begitu saja, apa gunanya??

Mumpung masih hangat, yuk! Kita berbarengan membuat pemahaman lebih kepada yang lain bahwa: KARTINI TIDAK TERKENAL DENGAN DANDANANNYA YANG MENOR.

Semoga tulisan tidak penting ini bermanfaat.

Salam,

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak