Perubahan pola pikir dan pola gerak saya semenjak kuliah memang tidak berubah drastis. (saya sadari itu), meskipun beberapa orang yang sebelumnya saya kenal, berubah drastis. Entah karena euphoria sebagai mahasiswa, atau karena terpengaruh oleh lingkungan yang baru. Belum saya telusuri lebih jauh. Tidak penting soalnya. :D
Tapi di sini, ada sesuatu yang membuat saya sedikitnya kembali berpikir bahwasannya, ada hal yang memang harus di utarakan secara langsung. Tentang bagaimana dinamika menjadi mahasiswa akan di jelaskan dalam postingan yang berikutnya. Itupun kalau saya diberi umur panjang oleh Tuhan, kalau saya masih punya tenaga, kalau saya masih punya akal sehat, dan kalau saya sudah tidak jomblo. Doakan saja. :D
Baiklah. Manusia memang senantiasa hidup bersosial. Komunikasilah yang menunjang hal tersebut. Komunikasi pada intinya adalah ketika dua orang atau lebih sedang berbicara, dan satu sama lain saling memahami tujuannya. Intinya itu. Mau pake bahasa Saturnus sekalipun, tapi kalau sama-sama dipahami, ya beres perkara. Maka dari itu, berkomunikasi merupakan hal yang selalu indah untuk dilakukan.
Komunikasi yang paling simpel adalah menggunakan bahasa Indonesia yang baik meskipun tidak selamanya harus benar dan inilah yang membuat saya sadar.
Pergaulan di lingkungan baru ini memang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Di Garut, semuanya terlihat aneh. Anak SD yang berpacaran, anak SMP yang sok-sokan dewasa, dan anak SMA yang terlihat berkeluarga. Saya yakin anda paham apa yang saya maksud.
Dari sana pula, banyak nilai kehidupan yang terlupakan. Banyak hal berarti yang hilang entah kemana. Banyak perubahan baru yang entah apa tujuannya. Tapi mungkin inilah yang disebut modern. versi saya.
Namun hal kecil yang sering kita lupakan adalah ucapan terima kasih. Ya, terima kasih. Jarang sekali hari ini ketika seseorang mendapatkan sesuatu, lalu mengucapkan terima kasih. Hal yang lebih mengherankan lagi, dan bahkan membuat saya tercengang adalah, ketika saya mengucapkan terima kasih, malah ditertawakan. Malah dianggap sesuatu yang aneh. Sesuatu yang di anggap gengsi untuk diucapkan. Padahal, what's wrong? Tidak ada yang salah.
Inilah yang membuat saya berpikir ulang bahwasannya, ucapan terima kasih pun sudah menjadi hal mahal Lebih tepatnya gengsi. Tidak lagi menjadi kebiasaan yang seharusnya dilakukan. Sederhananya, terima kasih saja sudah jarang, apalagi hal besar lainnya. Ini yang perlu dikembalikan.
Terima kasih itu hanya ucapan. Tidak dibayar pula. Bahasa itu gratis lho... Tidak dibayar. Lantas, kenapa harus gengsi? Toh orang lain juga ingin dihargai. Itulah hukum kausalitas jika kita ingin dihargai. Hubungan timbal balik. Bukan hal yang mahal pula.
Kesimpulannya, kita manusia butuh penghargaan. Terlepas mau menerima atau tidak tapi yang pasti, jauh di dalam hati kita, kita ingin dihargai. Maka dari itu, yuk! Mari kembali ke hal terkecil.
"Lah? Kan saya masih tetap mengucapkan terima kasih kok!"
Bukan harus pada anda juga, tapi mari sama-sama kita berikan contoh ke yang lain. Minimal ke teman dan adik anda. Karena sadar ataupun tidak, bangsa ini semakin jauh dari jati dirinya sebagai Indonesia.
Saya yakin, anda lebih paham tentang budaya dan nilai kehidupan yang semestinya.
Bukan begitu?
Salam,
