Saat itu tahun 1974. Usiaku dua puluh empat tahun. Aku sedang duduk sendirian di ruang tunggu Pusat Ortogenik Anak di Detroit, sambil berpikir apa arti "Ortogenik". Tiba-tiba ruangan dilanda angin topan. Angin topan itu datang dalam bentuk seorang anak laki-laki yang menerjang melalui pintu, membantingkan diri ke lantai, tiba-tiba duduk tegak, mengayun-ayunkan badan ke depan dan ke belakang, kedua tangannya di pangkuan, mata menerawang dan suaranya yang parau memuntahkan suku kata seolah ia baru menelan sesuatu, padahal tidak. Belum pernah kulihat yang seperti ini dalam hidupku.
Sungguh menakjubkan. Aku takjub... dan entah bagaimana aku merasa gembira. Pada usia dua puluh empat, sudah jarang kita melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat dalam hidup ini. Naluri pertemananku adalah menjatuhkan diri ke lantai dan melakukan apa yang dia lakukan. aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seperti dia.
Saat itu aku tidak tahu bahwa ini akan menjadi pertanyaan yang paling membara dalam hidupku; suatu pertanyaan yang tak berjawab.
***
"Kasus ekstrim" dapat didefinisikan bermacam-macam. Kita dapat menggambarkan seorang autistik yang sangat ganas, yang menggigit, mencakar, menampar, meludah, memukul orang-orang disekitarnya: Pengasuh, anggota, pasien, dan dirinya sendiri. Istilah ini juga dapat diberikan kepada orang-orang autistik yang patologinya membuat mereka sangat sukar dijangkau, lamban, tetapi yang perilakunya begitu mengganggu, mengacau atau menjengkelkan sehingga beban keberadaannya membuat kita habis kesabaran.
Yang mendorongku memasuki profesiku sekarang ini adalah sebuah kasus ekstrim, pada hari itu tahun 1974.
Nama angin topan itu Adam S. Umurnya empat tahun. Belakangan kuketahui bahwa dari sekitar dua puluh lima anak yang berada di Pusat Ortogenik Anak itu, Adam S. adalah yang paling sulit, paling berbahaya. Adam menggigit. Dia menggigit dan menyerudukkan kepala, mencubit dan memukul, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Dia tidak punya bahasa. Dia tidak datang kalau dipanggil. Dia tidak bisa duduk diam di kursi. Namun pada akhirnya dia akan duduk di lantai, mengayunkan badan ke depan dan ke belakang, mengantuk-antukkan kepala ke dinding di belakangnya. Aku masih bisa mengingat bagian kepalanya botak karena rambutnya rontok, sebuah pulau kecil di kepala akibat terjangan angin badai di tengah lautan rambut keriting yang ganas.
Adam suka mengamuk tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas, dia melemparkan diri ke tanah, memukul-mukulkan kedua lengannya, memlintirkan kedua kakinya, membenturkan dahinya pada permukaan apapun tempat dia jatuh, berguling di atasnya, benar-benar lupa diri.
Kami akan berusaha meredakannya dan biasanya perlu tiga atau empat orang dari kami. Kadang-kadang, kami membawa Adam ke ruang time-out, kadang-kadang, kami berdiri di sana, tak berdaya, menunggu badai berlalu.
***
#ReWriteBook

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)