26 Mar 2017

Dinding-dinding Kaca part #1

Aku bekerja dengan para penyandang autisme, di Prancis. Aku mendirikan sebuah yayasan di sana, berupa sebuah klinik yang dikhususkan untuk menangani kasus-kasus ekstrim.

Aku memang selalu tertarik terutama pada kasus-kasus ekstrim. Sewaktu masih kanak-kanak, aku ingin jadi dokter, saat itu juga!

Saat berumur delapan tahun, kutemukan sebuah buku Morris's Anatomy di loteng rumah sepupuku, Bettie.
Kubaca seluruh buku itu. Banyak sekali gambarnya. Aku menghafalkan prosedur operasi usus buntu-sayatan, arteri, hemostatik, penyedotan, pemotongan dan jahitan. Rasanya aku benar-benar seorang dokter.

Waktu itu, aku juga merasa aku ini seorang ventrilokuis (seniman yang mengandalkan suara perut.) Ibuku pernah menjadi artis komedi pada masa mudanya dan mengajariku bernyanyi dan menari. Jadi, wajar kalau aku lalu menjadi ventrilokuis.

Kuajari diriku dasar-dasar seni itu dengan bantuan sebuah buku yang berjudul "So You Want to Be a Ventriloquist?" yang tidak sengaja kutemukan di perpustakaan sekolah ketika sedang mencari buku yang tak pernah ada - yang seandainya ada akan berjudul "So You Want to Be a Brain Surgeon?"

Terilhami oleh dua pelajaran paralel ini, setiap minggu aku suka melakukan dua atau tiga kali operasi usus buntu pada boneka ventrilokuisku (ususnya adalah tali sepatu, yang sering kali sudah dibakar, yang dimasukkan ke perutnya pada malam sebelumnya).

Setahun kemudian keberhasilanku, sebagaimana keberhasilan Christian Barnard, mendorongku untuk memulai melakukan bedah jantung.
Sayangnya kedua karirku ini mendadak berhenti dengan wafatnya bonekaku, yang meninggal akibat komplikasi pasca--bedah (jahitan operasinya terurai) beberapa minggu sebelum aku berulang tahun yang kesepuluh.

Pada usia dua belas, aku menjalani tiga "karir" secara bersamaan: ilmuwan, novelis dan artis panggung. Aku menulis novel pertamaku pada usia dua belas tahun, dan terus menulis novel baru setiap beberapa tahun.

Dua tahun sesudah kematian tragis boneka ventrilokuisku, aku sebagai ilmuwan memenangi hadiah pertama pada Pekan Sains Detroit untuk "Manusia Kasatmata", yaitu boneka seukuran badan yang kubuat dari bubur kertas.

Sebagai seorang artis panggung, aku menyanyi, menari dan pantomim, belajar memainkan biola (tidak ada bakat), terompet (hampir tidak berbakat), lalu drum (bakat). Dan ketika mencapai usia empat belas, aku menghabiskan paruh pertama liburan musim panasku sebagai relawan di laboratorium patologi sebuah rumah sakit besar tempat kenalan ayahku bekerja.

Di sana, aku membuat katalog sampel-sampel parafin, membawa tabung-tabung percobaan, melihat ke dalam mikroskop. Yang paling hebat, aku harus memakai jas putih seperti Dr. Kildare.

Selama paruh kedua liburn musim panas, aku bekerja sebagai relawan di berbagai perkemahan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Aku menghabiskan musim panas pertama sebagai asisten pembimbing di Perkemahan Distroti Otot Michigan.

Di sinilah aku menyempurnakan teknik mendorong kursi roda; terus-menerus mendorong  dan menarik pegangannya dari belakang, mata selalu menatap empat setengah meter ke depan, mengantisipasi sudut dan celah, bukit, dan lembah-suatu sistem suspensi manusia yang selalu siap menjamin mulusnya berkendara kemanapun tujuan anda.

Selama bertahun-tahun, aku bekerja dengan anak-anak di daerah kumuh di pusat kota, anak-anak psikotik yang tidak mampu, anak-anak "mongoloid" dan terbelakang, anak-anak psikotik mongoloid yang tidak mampu di daerah kumuh.

Aku mendapatkan pelajaran mendasar tentang narsisme yang tak terungkapkan: melakukan kebaikan untuk orang lain membuat kita merasa baik-inilah perjalanan ego yang pamungkas. Suatu hari, dalam keadaan menderita karena patah hati dan ingin merasa bahwa aku ini baik, kuraih buku telepon Yellow Pages dan mencari kata "Retarded" (terbelakang) di bawah huruf R.

Aku ingin menyegarkan kembali ingatanku tentang sindrom down anak-anak yang begitu istimewanya hingga mereka merujuk ke "Special Schools", dan di sana kubaca sebuah alamat yang tidak begitu jauh dari tempatku tinggal.

Aku menelepon dan dibuatkan janji. Aku pergi ke sana. Yang kulihat setibanya disanalah yang menyebabkan aku menulis buku ini.


***

#ReWriteBook
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)