Hal pertama yang dilakukan setelah seseorang melakukan sesuatu adalah mengecek hpnya.
Bangun tidur, ngecek hp. Habis mandi, ngecek hp.
Bangun tidur, ngecek hp. Habis mandi, ngecek hp.
Bahkan sedang BAB pun juga sambil main hp.
Tidak ada yang melarang memang.
Begini,
hp memang sudah bukan lagi barang mewah. Tiap manusia seakan-akan wajib
memiliki hp. Dari yang harganya merakyat hingga meraja. Perusahaan
anyar industri hp ini makin tumbuh subur ibarat jamur di musim hujan.
Tidak
ada yang melarang. Bussiness katanya. Tapi lihatlah ketika anda lebih
memperhatikan hp daripada tetangga. Lebih peduli terhadap paket
internetan daripada memberi makan anak jalanan. Belum lagi konten-konten
SARA yang makin mudah diakses. Lucunya, kita kayak yang "biasa saja."
Padahal,
secara tidak sadar, makin banyak generasi penerus yang hidupnya makin
instan. "Aaah... Lu mah ngomong doang. Mana gampang merubah mindset
serba instan yang sudah membudaya!"
Memang tidak mudah, tapi apa kita harus menunggu seorang ksatria datang untuk membenahi ini?
Belum
lagi berita-berita HOAX yang makin dipercaya oleh netizen abal-abal
sehingga menelannya bulat-bulat tanpa usaha pencarian sebuah informasi
yang lebih detil.
Iyah
netizen yang baru kenal internet, lalu menyebarkan berita yang belum
tentu benar dengan semangat '45. Akibatnya, masyarakat semakin dibodohi
dengan isu-isu yang mencuat belakangan ini.
Kalau
memang iya, manusia sudah bergantung dengan hp, setidaknya menjadi
pengguna yang cerdas. Lagian, banyak jalan menuju Roma. Kita bisa
belajar dari mana saja.
Maksudnya gini, kita punya hp yang trendy. Internet makin mudah diakses. Murah pula.
Apa salahnya jika kita mengakses (dengan cerdas) banyak informasi untuk membantu orang lain?
Apa salahnya jika kita mengakses (dengan cerdas) banyak informasi untuk membantu orang lain?
Yuk
mari kita lebih membuka mata. Banyak anak jalanan yang sebenarnya ingin
sekolah tetapi tidak mampu akibat mahalnya pendidikan. Salahkan
pemerintah? Silahkan. Tapi kalau kitanya juga diam, apa bedanya?
Kehidupan sosial secara makin menipis. Sadar ataupun tidak, orang yang duduk berdekatan pun lebih sibuk dengan gadgetnya.
Mulailah
menjadi orang yang peka terhadap orang-orang disekitar. Saya juga sama.
Belajar lebih peka dan tidak bergantung diri dengan ponsel.
Saya yakin anda lebih memahami dari apa yang saya sampaikan. Anda juga lebih paham bagaimana kondisi kehidupan nyata saat ini.
Ini hanyalah tulisan tidak penting. Tapi kalau diam saja, mungkin lebih tidak penting.
Semoga ini tidak salah.
Salam,

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)