25 Mar 2017

Generasi Teknologi


"Hape, mana hape!"
Hal pertama yang dilakukan setelah seseorang melakukan sesuatu adalah mengecek hpnya.
Bangun tidur, ngecek hp. Habis mandi, ngecek hp.
Bahkan sedang BAB pun juga sambil main hp.

Tidak ada yang melarang memang.

Begini, hp memang sudah bukan lagi barang mewah. Tiap manusia seakan-akan wajib memiliki hp. Dari yang harganya merakyat hingga meraja. Perusahaan anyar industri hp ini makin tumbuh subur ibarat jamur di musim hujan.

Tidak ada yang melarang. Bussiness katanya. Tapi lihatlah ketika anda lebih memperhatikan hp daripada tetangga. Lebih peduli terhadap paket internetan daripada memberi makan anak jalanan. Belum lagi konten-konten SARA yang makin mudah diakses. Lucunya, kita kayak yang "biasa saja."

Padahal, secara tidak sadar, makin banyak generasi penerus yang hidupnya makin instan. "Aaah... Lu mah ngomong doang. Mana gampang merubah mindset serba instan yang sudah membudaya!"

Memang tidak mudah, tapi apa kita harus menunggu seorang ksatria datang untuk membenahi ini?

Belum lagi berita-berita HOAX yang makin dipercaya oleh netizen abal-abal sehingga menelannya bulat-bulat tanpa usaha pencarian sebuah informasi yang lebih detil.

Iyah netizen yang baru kenal internet, lalu menyebarkan berita yang belum tentu benar dengan semangat '45. Akibatnya, masyarakat semakin dibodohi dengan isu-isu yang mencuat belakangan ini.

Kalau memang iya, manusia sudah bergantung dengan hp, setidaknya menjadi pengguna yang cerdas. Lagian, banyak jalan menuju Roma. Kita bisa belajar dari mana saja.
Maksudnya gini, kita punya hp yang trendy. Internet makin mudah diakses. Murah pula.

Apa salahnya jika kita mengakses (dengan cerdas) banyak informasi untuk membantu orang lain?

Yuk mari kita lebih membuka mata. Banyak anak jalanan yang sebenarnya ingin sekolah tetapi tidak mampu akibat mahalnya pendidikan. Salahkan pemerintah? Silahkan. Tapi kalau kitanya juga diam, apa bedanya?

Kehidupan sosial secara makin menipis. Sadar ataupun tidak, orang yang duduk berdekatan pun lebih sibuk dengan gadgetnya.
Mulailah menjadi orang yang peka terhadap orang-orang disekitar. Saya juga sama. Belajar lebih peka dan tidak bergantung diri dengan ponsel.

Saya yakin anda lebih memahami dari apa yang saya sampaikan. Anda juga lebih paham bagaimana kondisi kehidupan nyata saat ini.

Ini hanyalah tulisan tidak penting. Tapi kalau diam saja, mungkin lebih tidak penting.

Semoga ini tidak salah.

Salam,
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)