24 Mar 2017

02.46 am

Jadi, belakangan ini saya sering bercanda ria dengan seorang wanita via handphone.

Sebut saja Istiqomah. (Bukan nama asli).

Lantas? Apa itu masalah? 

Okay, let me tell you.

Mungkin untuk sebagian orang, berkomunikasi dengan orang lain sudah merupakan fitrah manusia. Bagaimanapun juga, manusia adalah makhluk sosial. Saya juga tidak memungkiri itu. Tapi untuk postingan pertama saya bagaimana absurdnya saya saat mengenal sosok seorang wanita lebih dalam. Bukan sekedar mengetahui nama, tetapi juga latar belakang keluarganya.

Namun saat ini, saya seakan-akan berada di persimpangan jalan. LOL. Ya, benar. Di persimpangan jalan antara memilih untuk melangkah maju, atau berbelok arah adalah sebuah dilema. Apakah saya takut menjadi seorang jomblowan sejati? Bukan. Tapi menjadi lelaki adalah menjadi seorang penentu. Menjadi seseorang yang mampu memutuskan sebuah pilihan.

Terkadang di hati saya berkata "sudahlah... ambil saja keduanya." tapi tidak. Saya sudah mulai belajar untuk menjadi penentu yang baik, yang tidak menjadikan wanita sebagai sasaran pelampiasan. Mempermainkan banyak wanita hanya untuk agar dipuji saat ngobrol dengan teman lelaki dan mulai membanggakan kepecundangannya dengan banyak memiliki pacar. Iya, menurut saya pecundang. Sekedar gaya bukanlah pilihan yang tepat. Bukan gentleman. Tapi lebih kepada tidak bisa menentukan sikap. As the simple that.

Fenomena lain yang saya rasakan adalah, saya mulai merasa bosan dengan segala siklus kehidupan yang hampir 4 tahun ini saya geluti. Kuliah, ngerjain tugas, diskusi, membaca (meski jarang), dan beberapa kegiatan yang tidak jauh berbeda layaknya manusia pada umunya. Sering saya berpikir bahwa, "kalau saya pindah ke Bikini Bottom, apakah Spongebob akan bisa buat hidup saya tidak membosankan?"

Sebelum memulai tulisan ini, saya ketiduran akibat kecapean. Maklum, enterpreuneur hahaha...

Nah, dalam tidurnya saya, bukannya saya mimpi tetapi seakan-akan ada yang berbisik dan mengatakan bahwa saya kurang bersyukur atas apa yang telah saya terima.

Benar. Saya kurang menyadari akan kebesaran Tuhan yang semenjak saya lahir senantiasa bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup saya. Termasuk ketika saya menulis pun, juga atas kebesaran Tuhan yang "mungkin" sebagian dari kita juga jarang menyadari hal ini.

Pernah saya mendengar seseorang yang mengatakan bahwa "Ketidak nikmatan hidup bukan karena hidup kamu serba kekurangan, tetapi karena bersyukur pun jarang dilakukan." Ya, saya sadari hal itu. Karena belajar menjadi orang yang selalu positive thinking bukan hal yang sulit, namun tidak mudah.

Saya percaya, dan selalu percaya bahwa apa yang saya katakan, lebih dipahami oleh anda. Lebih dicerna dengan baik oleh anda.

Percayalah, saya akan senang ketika ada orang yang menegur bahwa perubahan perlu dilakukan. Ini bukan tentang manusia dan hiruk-pikuk kehidupannya. Tapi ini tentang bagaimana manusia bercengkerama dengan Tuhannya.

Bukan begitu?

Salam,
Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)