Pemahaman tentang ideologi. Gambaran kualitas hidup seseorang. Arah dan tujuan yang lebih jelas tentang menatap kehidupan.
Melihat sebuah zona kehidupan yang memiliki GAP terlalu jauh antara kaum yang mampu dan kaum yang melarat. Bagaimana mengarungi kerasnya kehidupan dengan banyak paham yang berkecimpung dalam sebuah tatanan kebangsaan. Indonesia.
Sejak Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan, sejak itu pula semua orang merasa menjadi pemenang. Lupa akan hakikat kehidupan yang hakiki. Lupa akan hakikat sebuah bangsa terbentuk. Lupa akan tatanan hidup yang perlu keseimbangan antara yang bisa dan yang susah, yang mampu dan yang bingung. Yang serakah dan yang sekarat. Semuanya berlomba menjadi penguasa-penguasa kecil dalam masyarakat.
Melihat realita kehidupan yang semakin kerdil, hati saya tersentuh pula ketika melihat banyak anak kecil yang putus sekolah. Banyak petani yang dijejali rupiah untuk diam ketika banyak gedung bertingkat dengan gagahnya berdiri.
Miris memang. Lalu? Kita semua diam? Tidak mampu? Atau juga menunggu giliran dijejali pula?
Otak saya bergerak ketika hati memberontak untuk harus membela kaum proelitar. Kaum yang sudah miskin pengetahuan, miskin harta pula. Pendidikan tidak setara. Perlukah dibenah?
Masih diam juga? Masih menunggu juga?
Tidak mampu merubah Indonesia?
Ayolah.!!!
Mulailah dari yang terkecil. Ketika melihat ada yang tidak beres, benahi. Mulailah dari keluarga. Saya yakin anda paham tentang bagaimana harus membenahi yang salah. Memperbaiki yang kurang baik.
Mulailah dari desa tempat tinggal kita. Mulailah dari hal terkecil. Belajarlah untuk jujur. Belajarlah untuk tidak berkata bohong.
Lalu? Anda bisa menerapkannya pula di sekolah, kampus, masyarakat yang lebih luas. Ayolah.! Kita punya banyak teman. Ajaklah.
Maka dari itu saya memutuskan untuk masuk ke sebuah wadah kemanusiaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tidak harus PMII juga anda harus bergabung. Kemana saja silahkan. Saya yakin anda memiliki nurani untuk membuat keseimbangan. Membantu kaum yang tertindas. Melawan kemunkaran yang semakin tampak di depan mata.
Seorang bijak pernah berkata bahwa "Hancurnya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat, namun diamnya orang-orang baik!"
Mari kita bergerak!
Sekian dan semoga berkesan. :)

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)