Anak-anak kami memang pengacau, tuan. Sejak nenek moyang kami beranak pinak di kampung ini, tidak satupun orang yang bertata krama disini. Kami tidak seperti kaum beradab di seberang sana, tuan.
Leluhur kami mengajarkan caci maki, sumpah serapah, saling tendang
Peradaban yang mangkrak!
Kami hanya menjalani satu ajaran penting para leluhur; jangan pernah berubah. Makanya tidak ada ajaran paling peradab disini, tidak ada upacara sebelum makan, tidak ada hormat pada orangtua, tidak ada menyayangi pada yang lebih muda.
Bahkan, teknologi yang masih kami agungkan sampai hari ini adalah parutan kelapa dari kaleng yang sudah ditajami paku.
Dulu kami pernah didatangi ajudan dari Presiden. Kami dimintai pindah dari pulau ini. Kami dijanjikan rumah yang lebih layak, pemukiman yang lebih sehat, teknologi yang lebih maju. Tapi semuanya kami tolak. Tidak ada yang lebih bijak dari para leluhur kami.
Biarkan kami tetap menjadi pengacau, menjadi para perusak peradaban. Kami hanya menjalani satu wasiat leluhur; "Jangan pernah berubah seperti janji para pemimpin setelah terpilih".
MENU
close

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)