Saya teringat beberapa tahun lalu, ketika hendak menjadi suami dari seorang perempuan, aku dipatahkan dengan sebuah undangan pernikahan darinya dengan pria lain. Itu sebuah pukulan yang amat sangat untuk saya. Bagaimana tidak, dengan semangat mengumpulkan biaya (minimal untuk cincin lamaran), saya digeser perlahan oleh pria lain. Katanya, lebih dekat. Saya ini pendatang. Anaknya enggan dibawa keluar. Begitu tulis niatku saat itu tapi baiklah. Baiklah.
Menurut saya, pernikahan itu adalah restu yang utuh. Jika ada yang berat merestukan, yang terjadi adalah kendala dan malapetaka. Jika beberapa meninggalkan tanpa alasan, itu artinya, saya juga diperlakukan demikian.
Saat itu saya merasa kesakitan, ada sebuah pengkhianatan, atau saya yang memang belum karuan?
Bisa saja saat ini, kami malah sering bertengkar karena ternyata banyak perbedaan pendapaat, atau prinsip yang tidak seimbang, atau penghasilan yang tidak sesuai kebutuhan, atau bisa jadi perceraian.
Ternyata benar. Selang beberapa bulan pernikahan, saya menemukan orang baru, yang ternyata jauh lebih nyambung dan ampuh. Saya mulai mencocokkan pemikiran, prinsip, kemauan masing-masing, serta perdebaan masing-masing.
Perasaan mulai tumbuh, penguatan mulai ada titik baru, berjalan dua tahun, usai. Kami terpisah jarak dan budaya. Ternyata, ada hal baru lagi yang belum saya pikirkan: REALISTIS.
Saya tidak melarang mencintai siapapun dengan harapan apapun. Tapi pikirkan banyak hal sebelum terjun dalam muara perasaan.
MENU
close

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)