Setelah (terpaksa)
menikmati ledakan berwarna dan asap kimia malam tadi, dada saya sesak dipenuhi
bualan masa lalu dan masalah yang timbul beberapa jam sebelumnya (akan saya
ceritakan kelak). Padahal, saya bisa saja menghindar dari keramaian. Namun itu
tidak dilakukan. Mau bagaimanapun, saya mesti bisa merekam kejadian semalam
dalam ingatan. Kejadian setahun sekali.
Anak-anak bergerombol dengan pakaian ‘terkeren’
mereka, berdiri tidak karuan di pusat keramaian, lalu lalang entah apa yang
dicari. Ibu-ibu menggendong anak-anak mereka, mendekati deretan pedagang gula
dan mainan. Bapak-bapak berdiri dua atau tiga orang namun dalam kelompok kecil
yang banyak. Rata-rata berbicara dengan wajah serius. Mungkin isu kematian,
atau perkembangan dunia politik daerah, atau hilangnya tukang logam, atau
kenapa anak tetanggga mati muda, atau kenapa dan kenapa lainnya sembari memeluk
dada sendiri, dan menjepit sebatang rokok di jari. Di sudut-sudut jalan, aparat
berseragam berdiri memegang tongkat sembari mengobrol dan sesekali menahan
pengendara motor dengan knalpot bising.
Di tengah
lapangan, terdapat sebuah panggung dengan atap yang bertuliskan “Happy New Year
2020” dan dihiasi sorotan lampu warna warni, berirama sesuai tema lagu yang
sedang dinyanyikan. Di sekitar panggung, anak-anak berusia tiga sampai tujuh
tahun tampak riang melambungkan baling-baling kertas yang menyala saat terbang
ke udara, mengejarnya kembali saat jatuh, lalu di ulang-ulang. Di deretan
tangga tribun lapangan, tampak ibu-ibu yang lebih tua, (mungkin sudah berstatus
nenek) sedang duduk murung. Entah menahan rasa kantuk, entah memang tidak cocok
acaranya. Tapi yang pasti, tidak semua orang mengidamkan acara ini. Tidak semua
orang!
Muda-mudi
kemana? Ini variatif.
Ada yang
sejak sore hari seorang pemuda sudah bertelanjang dada, di atas motor dengan wajah yang tidak fokus,
berkeliling sepanjang jalan protokol. Ada juga yang duduk melingkar, tertawa
sembari gelas berputar di pojok-pojok taman. Ada pasangan remaja yang berjalan
bergandeng tangan (mungkin salah satu dari mereka tunanetra). Ada pula yang memilih duduk ngopi sambil menatap
layar gerak di trotoar jalan. Ini yang paling aneh, ada yang sedang menghitung
jumlah pengguna kaos FILA KW malam itu.
Di keramaian
malam tahun baru, saya diguncang masalah. Ya, orang yang dari masa lalu
menabrakkan diri pada sebuah ikatan yang sedang saya bangun. Terjadilah dentuman
besar, dan robohlah semua canda tawa. Seketika dada saya sesak, dan merasa
sepi. Di keramaian apapun, pertunjukkan sehebat apapun, jika rasamu tidak disitu,
yang terjadi adalah membisu. Hendak menangis, itu kesalahanku. Hendak berpura-pura
ceria, semalam bukan langkah yang tepat.
Kini,
biarlah semuanya terjadi. Jika angan mencinta harus berakhir singkat, saya
siap. Jika harus memulai lagi dari awal, bukan masalah. Saya berniat membuang
racun di tahun baru, ternyata racun baru tercipta dan membiru.
Untungnya, ini
adalah cerita awal waktu. Masih banyak hal baru yang bisa saya cipta atau tiru. Semoga
lekas sembuh, wahai hati yang membeku. Selamat memisahkan diri dari racun tahun
baru.

No comments:
Post a Comment
Komentar mu, ceria ku. :)