1 Jan 2020

Racun Tahun Baru


Setelah (terpaksa) menikmati ledakan berwarna dan asap kimia malam tadi, dada saya sesak dipenuhi bualan masa lalu dan masalah yang timbul beberapa jam sebelumnya (akan saya ceritakan kelak). Padahal, saya bisa saja menghindar dari keramaian. Namun itu tidak dilakukan. Mau bagaimanapun, saya mesti bisa merekam kejadian semalam dalam ingatan. Kejadian setahun sekali.

Anak-anak bergerombol dengan pakaian ‘terkeren’ mereka, berdiri tidak karuan di pusat keramaian, lalu lalang entah apa yang dicari. Ibu-ibu menggendong anak-anak mereka, mendekati deretan pedagang gula dan mainan. Bapak-bapak berdiri dua atau tiga orang namun dalam kelompok kecil yang banyak. Rata-rata berbicara dengan wajah serius. Mungkin isu kematian, atau perkembangan dunia politik daerah, atau hilangnya tukang logam, atau kenapa anak tetanggga mati muda, atau kenapa dan kenapa lainnya sembari memeluk dada sendiri, dan menjepit sebatang rokok di jari. Di sudut-sudut jalan, aparat berseragam berdiri memegang tongkat sembari mengobrol dan sesekali menahan pengendara motor dengan knalpot bising.

Di tengah lapangan, terdapat sebuah panggung dengan atap yang bertuliskan “Happy New Year 2020” dan dihiasi sorotan lampu warna warni, berirama sesuai tema lagu yang sedang dinyanyikan. Di sekitar panggung, anak-anak berusia tiga sampai tujuh tahun tampak riang melambungkan baling-baling kertas yang menyala saat terbang ke udara, mengejarnya kembali saat jatuh, lalu di ulang-ulang. Di deretan tangga tribun lapangan, tampak ibu-ibu yang lebih tua, (mungkin sudah berstatus nenek) sedang duduk murung. Entah menahan rasa kantuk, entah memang tidak cocok acaranya. Tapi yang pasti, tidak semua orang mengidamkan acara ini. Tidak semua orang!

Muda-mudi kemana? Ini variatif.

Ada yang sejak sore hari seorang pemuda sudah  bertelanjang dada, di atas motor dengan wajah yang tidak fokus, berkeliling sepanjang jalan protokol. Ada juga yang duduk melingkar, tertawa sembari gelas berputar di pojok-pojok taman. Ada pasangan remaja yang berjalan bergandeng tangan (mungkin salah satu dari mereka tunanetra). Ada  pula yang memilih duduk ngopi sambil menatap layar gerak di trotoar jalan. Ini yang paling aneh, ada yang sedang menghitung jumlah pengguna kaos FILA KW malam itu.

Di keramaian malam tahun baru, saya diguncang masalah. Ya, orang yang dari masa lalu menabrakkan diri pada sebuah ikatan yang sedang saya bangun. Terjadilah dentuman besar, dan robohlah semua canda tawa. Seketika dada saya sesak, dan merasa sepi. Di keramaian apapun, pertunjukkan sehebat apapun, jika rasamu tidak disitu, yang terjadi adalah membisu. Hendak menangis, itu kesalahanku. Hendak berpura-pura ceria, semalam bukan langkah yang tepat.
Kini, biarlah semuanya terjadi. Jika angan mencinta harus berakhir singkat, saya siap. Jika harus memulai lagi dari awal, bukan masalah. Saya berniat membuang racun di tahun baru, ternyata racun baru tercipta dan membiru.

Untungnya, ini adalah cerita awal waktu. Masih banyak hal baru yang bisa saya cipta atau tiru. Semoga lekas sembuh, wahai hati yang membeku. Selamat memisahkan diri dari racun tahun baru.

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)