17 Mar 2017

Aneh memang. Tapi sudahlah!


Terkadang sebagai manusia yang memiliki perasaan, disakiti adalah hal yang paling tidak mengenakkan.
Ketika yang seharusnya manusia secara fitrah itu di sayang dan dimanja, tetapi ini diperlakukan tidak sehat. Ya, begitulah. Perasaan memang selalu menuntut baik, tapi masalahnya, apakah yang baik akan mendewasakan diri? hmm...

Beberapa hari yang lalu, dan untuk pertama kalinya, saya diminta ke rumah oleh keluarga seorang perempuan. Ya, perempuan. Sosok anggun yang saya kenal belakangan ini semenjak bermasyarakat dalam salah satu program kampus. Sebut saja KKN.

Dengan yang diamanahkannya saya sebagai ketua, tidak ada salahnya jika saya dekat dengan siapa saja. Termasuk dia. Sambil berlalunya waktu, saya mulai akrab dengan dia. Komunikasi yang lebih intens pun kami lakukan pasca kegiatan KKN.

Keakraban kami membuat saya merasa bahwa, ada perasaan bahagia dengan rasa yang berbeda. Entahlah. Susah untuk dibahasakan. Tapi yang pasti, saya yakin, kamu juga pernah merasakan hal ini.

Mungkin beberapa orang merasakan waktu berjalan lebih lambat, atau matahari berotasi terlalu cepat, atau tiba-tiba tidak sadar akan sebuah buaian perasaan bahagia. Beberapa orang pula mungkin akan langsung mengatakan bahwa "gila.... gua jatuh cinta!!!"

Tapi sudahlah. Beberapa bulan setelah itu, saya diminta ke rumah oleh keluarganya, setelah sebelumnya, saya sudah pernah bertemu dengan ibunya. Berbicara panjang lebar mengenai kampus, keluarga dan beberapa hal lain yang berbingkai basa-basi belaka.

Sebenarnya ini merupakan perkara yang aneh, bahwa saya SUDAH MAU KE RUMAH SEORANG PEREMPUAN. Gokil! Lalu sebelumnya? Belum pernah. Namun, apakah kami pacaran? Tidak pula. Ya.... sosok wanita muslimah (menurut saya) dengan prinsip pacaran setelah menikah, atau apapun itu namanya. Tapi yang pasti, kami tidak pacaran.

Perasaan yang tegang dan kaku setelah berada di rumahnya selalu berhasil membuat saya menjadi seorang pengecut sebagai laki-laki. Kaku, keringat dingin, salah tingkah dan semua perbuatan tidak beraturan lainnya.

"Jadi, mana yang namanya Ajis?"
"Em... Sa sa saya! (senyum kecut)"

"Jadi begini, saya sudah pernah mendengar cerita tentang anda dari adik saya"
"Oh iya. Syukurlah"

"Kalau boleh tau, kesibukan selain kuliahnya, apa yah?"
"Em.... kebetulan saya juga menjadi salah satu pentransfer ilmu di sebuah sekolah dasar"

"Iyah iyah. Sudah tahu tentang keluarga kami?"
"Kebetulan adik anda sudah pernah menceritakan."

"Oh iyah. Jadi begini, saya tidak akan ikut campur urusan kalian, tapi saya rasa, Ibu akan menekankan bahwa adik saya tidak boleh jauh dari keluarga."
 "Iyah, saya paham tentang itu."

Tidak ada perbincangan yang lebih penting lagi selain berbicara mengenai pengalaman hidup si tuan rumah dan saya hanya mendengarkan dengan senyum-senyum tidak karuan.

Terlepas dari itu semua, saya menyadari bahwa ada rentetan proses penting yang tengah saya jalani dengan keadaan sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Kendala keuangan kampus, cita-cita melanjutkan pendidikan, dan urusan tentang perasaan hati.

Aneh memang, sebagai orang yang jarang berhubungan serius dengan perempuan, beberapa hari yang lalu adalah hal yang beda.

Ngebet kawin?? Saya rasa tidak. Karena saya sendiri belum "mapan". Tapi ya itu.
 Kini, tinggal tunggu kabar dari pihak keluarga mengenai keputusan yang akan diambil.

Ada laki-laki lain? Ada! Tapi akan ada di lain waktu. Intinya, saya merasa diri saya berubah. Lebih memahami makna kehidupan. Sisanya? Tuhan yang lebih tahu.

Dan gambar di atas tidak ada hubungannya. :D

Aneh memang. 
Tapi, sudahlah.! 

Tika Abdul Aziz
Tika Abdul Aziz

Sedang merangkum banyak gerak. Semoga layak untuk dicetak, kelak

No comments:

Post a Comment

Komentar mu, ceria ku. :)